Neurajah

Neurajah

Rahmad Nuthihar

Terlepas dari sihir atau tidak, kepercayaan masyarakat aceh kepada thabib akan kesembuhan penyakit yang dideritanya sangat besar pada kepribadian pasien. Terlebih masyarakat awam, lebih mempercayai pengobatan yang bersifat alamiah daripada seorang dokter spesialis sekalipun. Dalam pengobatannya thabib ini hanya membacakan beberapa mantra kesembuhan atau dalam bahasa Aceh disebut dengan neurajah. Tingkat kemanjuran mantra ini sangat dipengaruhi oleh sahabat  (para jin), namun ada juga beberapa thabib yang hanya menggunakan media ayat – ayat suci al quran untuk kesembuhannya. Di aceh sendiri tercatat beberapa daerah yang sangat kental ilmu kabhatilan tersebut diantaranya Pantai Barat Selatan, Sinabang, Aceh Tengah,dll  namun sampai saat ini belum ada data yang real yang mampu menyimpulkan keberadaanya.

Neurajah Peneukoh

Ka ek u langeet kah ku peugandoe

(naik ke langit aku ketapel)

Katroek di bumoe kah ku singkla

(turun ke bumi aku ikat)

Bak gaki kah ku boeh pasong

(di kakimu aku pasang pasung)

Bang idoeng gunci tembaga

(pada hidungmu aku kunci dengan tembaga)

Dihadapan raja diwa hong saidi

                               

 

Neurajah

Neurajah

Pada lirik mantra tersebut jelas disebutkan bahwa neurajah ini keseluruhan menggunakan media bantu berupa alam ghaib seperti pada kalimat yang paling bawah “Dihadapan raja diwa hong saidi”

Jelas bukan, raja diwa hong saidi adalah sosok pemimpin jin di dunia kegelapan yan

g dipercaya masyarakat aceh mau menolong mereka. sama halnya yang ditampi

lkan di televisi, thabib di Aceh juga perlu sesajen untuk medianya, tapi perlu digaris bawahi, tidak keselurahan dari thabib di aceh, yang menggunakan,  sesajen hanya dipakai bagi paranormal atau lebih tepatnya disebut dukun yang terdapat di pendalaman. Penyakit yang mampu disembuhkan oleh thabib ini sangat beragam mulai dari penyakit yang ringan, hingga parah sekalipun, seorang thabib mampu menyembuhkannya dalam kurung waktu tidak lebih dari sebulan, jika dalam kurun waktu tersebut tidal kurun sembuh maka thabib akan mengatakan “hana ubat” (tidak ada obat), percaya atau tidak ?, penyakit yang tergolong ringan diantaranya  yang mampu disebmbuhka oleh thabib  berupa kesurupan, demam, sakit perut, sedangkan penyakit parah berupa kanker ganas, batu ginjal. Namun anehnya para thebe ini tidal melakukan operasi melainkan hanya dengan  beberapa mantra yang di ucapkan.

Namun ada juga para masyarkat Aceh yang memakai jasa t thebe untuk membant

u menemukan barang mereka yang hilang atau disebut “jak meukaloen” (pergi melihat)

Khususnya thebe yang berda di desa – desa umumnya mereka tidal menetapakan

tarif khusus selama pengobatan tetapi para pasien memberikan sejumlah uang seihklasnya saja. Mereka cukup dibayar dengan Rp 5.000 atau dengan menjamu dengan makan malam saja. Satu hal yang perlu diketahui, thabib di Aceh hanya bisa melayani pasien saat matahari mulai terbenam, tepatnya pada pukul 16.00 – 05.30. selebih dari itu para thebe akan menolak membacakan mantranya dengan alasan “hana koeng peunukoeh” (tidak kuat pemotong).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s